Senin, 24 November 2014

Saat seseorang memutuskan untuk menikah, saat itu juga akan dimulai segala macam ujian dan tentunya godaan dari setan untuk mematahkan niat tersebut. 

Ibadah yang paling tidak disukai oleh setan adalah menikah. Karena dengan menikah seseorang telah menyempurnakan separuh agamanya, dan dengan menikah juga dapat terbentuk keturunan yang beriman dan bertakwa.

Meskipun godaan dari setan selalu ada, dan ujian selalu datang menerjang, tapi saya selalu percaya bantuan ALLAH selalu ada. Seperti hari ini, ALLAH memberi saya bantuan yang sangat luar biasa, dengan menghadirkan seorang teman yang baik akhlaknya dan perhatian serta penyayang, yaitu Citra Fatma.

Sore hari menjelang waktunya pulang kantor, Citra Fatma menghampiri meja saya dan dia memberikan sebuah hadiah. Saya terkejut atas hadiah itu. "Hah, dalam rangka apa? Ini apa Cit?" Tanya saya kepada Citra. Sambil berjalan kembali ke mejanya, dia hanya menjawab ringan. "Buka aja."

Hadiah tersebut dibungkus oleh kertas kado berwarna putih motif bunga-bunga. Dari bentuknya saya mengira isi hadiah ini adalah buku. Tebakan saya benar. Saya mendapatkan buku yang in syaa ALLAH akan sangat bermanfaat untuk saya menjalani kehidupan setelah menikah nanti. Saya bahagia mendapat buku tersebut. Tapi ada lagi yang membuat saya lebih bahagia, yaitu pesan yang dituliskan Citra untuk saya. Membacanya sampai membuat mata saya berair.

Terharu. Bahagia. Merasa begitu disayangi. Beruntung. Subhanallah. Itulah berbagai rasa yang saya rasakan setelah membaca pesan darinya. Saya merasa ini bentuk bantuan ALLAH untuk menguatkan niat saya menikah. Bantuan ALLAH juga untuk membuat saya dapat menjadi istri yang berbakti pada suami. Terima kasih ya ALLAH karena telah menghadirkan Citra di salah satu fase hidup saya.

Terima Kasih juga Cit, atas pesannya, bukunya, tauladan dari kamu yang sangat baik dalam hal ibadah. Kadang iri ngelihat kamu yang terus bisa konsisten Sholat Dhuha dan konsisten membaca Al-Quran. Sehat-sehat terus ya Cit. Moga dimudahkan proses persalinannya nanti. Amin.



"Dearest Trimi,

Sesudah menikah, setiap hal interaksi kita dengan suami bisa menjadi ladang pahala (atau dosa) bagi kita. Suami adalah jalan bagi setiap wanita muslimah menuju surga atau nerakanya.

Setiap senyum, perhatian, dan tiap usaha untuk nyenengin suami, sekecil apapun, in syaa ALLAHakan menambah tabungan pahala kita.

Karenanya, selamat ya trim. Kalian sudah mulai persiapan pernikahannya.

Mudah-mudahan ALLAH kasih kemudahan untuk kalian berdua dan di setiap halangan yang ada (yang pasti akan ada). Mudah-mudahan kalian bertambah kuat.

Selain persiapan acara, jangan lupa siapin mental juga. Mudah-mudahan buku ini bisa bantu ya.


Love,
Citra"






Rabu, 24 September 2014

Happy Third Month


Dan saya sudah merasakan  kebahagian seperti penguin wanita tersebut :))

Happy Third Month Sayang..

 

*serasa ABG ya tiga bulanan aja dirayain hihi..bukan perayaan tapi hanya sebuah bentuk ungkapan kebahagiaan..moga diperlancar niat baik kita ya sayang*

cc : Muhammad Iqbal

Rabu, 10 September 2014

Romansa di Sindangrasa

Selasa, 9 September 2014
Saya mendapat kepercayaan untuk menjadi salah satu fasilitator (disingkat fasil) kegiatan KIB 2. Saya menjadi fasil untuk kelompok 7 di SDN Sindangrasa. Berikut ungkapan dari Ari Yulianto, salah satu inspirator di kelompok 7, tentang kegiatan hari inspirasi selasa lalu.


Romansa Di Sindangrasa
 
Tadinya saya pikir Kelas Inspirasi adalah wadah untuk menginspirasi anak-anak SD. Waktu briefing beberapa hari sebelum Hari Inspirasi, panitia mengatakan para Inspirator diharapkan memberikan inspirasi pada siswa agar mereka mau memiliki cita-cita yang mulia. Setidaknya menjadi motivasi supaya mereka terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang paling tinggi. Tidak stuck di SD atau SMP aja. Walau tidak berada di kota besar.


Selasa, 9 September 2014. Hari Inspirasi itu akhirnya tiba. Berbekal sedikit pengalaman di dunia kerja, saya bersama Inspirator lainnya melangkah pasti menuju Sekolah Dasar Negeri Sindangrasa, Bogor Timur, Jawa Barat. Terlihat wajah antusias dari para Inspirator.

Mungkin di benak mereka sudah tergambar bagaimana menceritakan pekerjaan seorang pegawai bank. Atau menjelaskan betapa serunya menjadi seorang psikolog. Belum lagi rumitnya menjadi seorang ladies underwear specialist. Ada juga yang asik bermain clay dan menyebutnya sebagai terapi. Seorang Inspirator bahkan menyebut dirinya tukang  timbang untuk mempermudah penyebutan profesinya sebagai seorang kalibrator.


Profesi lain yang tak kalah seru adalah geologis. kami berkelakar dengan menyebutnya sebagai tukang batu. Ada lagi yang berprofesi sebagai penulis merangkap motivator. Saya sendiri, sebenarnya berprofesi sebagai broadcaster. Tapi, saya lebih nyaman bercerita soal rasa ingin tahu, sekarang lebih tenar dengan nama kepo, yang harus  dimiliki seorang jurnalis.


Kelas pertama saya adalah kelas satu. Kalem. begitu kesan pertama yang terasa. Setelah diberi hadiah berupa ID Card Pers ala-ala, mereka bersemangat. Kelas kedua adalah kelas tiga. Katanya sih kelas horor karena siswanya nakal-nakal. tapi ternyata lebih seru dan tidak horor sama sekali.


Kelas terakhir saya adalah kelas lima. Di kelas ini saya dan rekan  fotografer tertegun hebat. Bukan karena kenakalan khas anak-anak. Kami terpana pada kemampuan kognitif siswa di kelas ini. "Apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang wartawan?", "Mengapa anda memilih menjadi wartawan?" adalah dua pertanyaan yang membuat rahang kami menganga.


Keluar dari kelas terakhir itu saya tersadar. Suara anak-anak yang ceria, berbalas tawa tanpa beban, sorot mata penuh antusiasme, aktivitas fisik tanpa kenal lelah. Semua itu menginspirasi saya. Untuk terus melangkah. Untuk terus optimis. Apapun yang terjadi.


Ah, saya salah. Tadinya saya pikir Kelas Inspirasi adalah untuk menginspirasi. Tapi ternyata malah saya yang terinspirasi oleh siswa-siswa di SDN Sindangrasa. Terima kasih, tanpa banyak bicara, hanya melakukan apa yang kalian suka, kalian sudah memberi dampak luar biasa.


Kita Punya Mimpi... Kita Pasti Bisa!!!


Depok, 10 September 2014


*tulisan ini juga dipersembahkan untuk teman-teman inspirator, fotografer dan fasilitator Kelas Inspirasi Bogor 2 Kelompok 7. You guys rock...!!! 




Rabu, 28 Mei 2014

Reaktif = Daftar Hitam

Kegiatan donor darah rutin diselenggarakan di kantor saya. Koperasi dan PMI yang menjadi penyelenggara kegiatan rutin tiap tiga bulan ini. Pada 10 September 2013 diumumkan akan ada kegiatan donor darah di aula Gedung A, dan saya ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Menjadi pendonor sudah saya lakukan semenjak kuliah. Sebenarnya sejak di SMA pun saya sudah ingin mendonorkan darah saya namun karena waktu itu umur belum mencukupi-belum 17 tahun-jadi saya ditolak untuk menjadi pendonor. Saat kuliah saya beberapa kali mendonorkan darah saya, dengan tujuan utama mendapat bingkisan dari penyelenggara donor..hahahaha niat jelek. Apalagi penyelenggaranya dari Djarum, benefitnya menggiurkan banget deh bagi ukuran mahasiswa saat itu (baca : sikap yang jangan dicontoh).

Selepas kuliah, jika ada kesempatan untuk mendonorkan darah saya berusaha untuk turut serta. Dan tanggal 10 September 2013, kondisi tubuh saya sehat untuk menjadi pendonor. Sekitar 250 cc darah saya diambil pada hari itu.

Empat bulan kemudian, kantor kembali menyelenggarakan kegiatan donor darah. Saya antusias untuk ikut lagi. Bersama beberapa teman saya berangkat ke aula Gedung A. Kondisi aula sudah ramai oleh para calon pendonor. Saya lupa dapat nomor antrian berapa saat itu. Sampai akhirnya nomor antrian saya dipanggil. Pertama saya diperiksa kadar hemoglobinnya. Hasilnya kadar saya baik untuk menjadi pendonor. Pemeriksaan selanjutnya adalah tekanan darah dan histori kesehatan saya. Saat pemeriksaan kedua ini saya sudah siap menjulurkan lengan saya untuk dicek tekanan darahnya, namun Pak Dokter yang bertugas menyampaikan suatu hal yang membuat saya kaget.

"Oh Ibu Tri Miranti ya, Ibu maaf hasil donor darah ibu sebelumnya menunjukkan ada reaksi. Jadi setiap hasil darah pendonor akan kami lakukan uji saring.  Dan darah ibu tidak lolos uji saring. Ibu saya kasih rujukan ke PMI, untuk mengkonfirmasi darah ibu. Saat ini ibu tidak bisa donor dulu"

Saya kaget dan tak dipungkiri sedih. Karena saya takut, ada penyakit apa dalam tubuh saya yang tidak saya sadari. Wajah muram saya tak dapat ditutupi dan mba atrin pun menyadarinya. Siang itu saya ijin ke atasan saya untuk konfirmasi langsung ke PMI. 

Sesampainya di PMI saya dijelaskan oleh petugas konfirmasi, bahwa PMI melakukan 3 jenis uji saring dan salah satu dari uji tersebut darah saya dinyatakan reaktif. Singkat cerita saya dirujuk untuk pengecekan darah lagi di laboratorium. Saat diberi rujukan saya menanyakan kepada petugas, "Ibu bagaimana jika saya ingin bisa donor lagi?". Ibu petugas menjelaskan bahwa untuk bisa donor lagi saya harus menunjukkan hasil lab dari luar yang menunjukkan bahwa darah saya sehat. Setelah itu PMI tidak mentah-mentah menerima hasil lab dari luar, saya juga harus menjalani uji pantau 3x3 bulan.

Pada minggu yang sama, saya memeriksakan diri ke RS Carolus dan melakukan pemeriksaan darah di sana. Hasilnya alhamdulillah negatif. Hasil lab dari RS St. Carolus tersebut tidak langsung saya laporkan ke PMI. Sempat lama bertengger cantik di kamar saya. Sampai hari kamis, 22 Mei 2014 kemarin saya menyempatkan diri ke PMI. Menunjukkan hasil lab saya yang negatif dan meminta untuk dilakukan uji pantau 3x3 bulan agar tidak masuk ke dalam daftar hitam PMI lagi.

Saat pengambilan darah, petugas konfirmasi kembali menjelaskan, jika uji pantau pertama ini hasilnya masih reaktif. Maka ibu tidak dapat menjadi pendonor lagi. Meskipun hasil lab di luar menunjukkan negatif tapi ibu tidak bisa menjadi pendonor. Hasil lab yang negatif menunjukkan bahwa ibu cukup sehat untuk diri sendiri namun tidak baik jika didonorkan ke orang lain.

Oke saya pun menerima penjelasan tersebut. Dari penjelasan tersebut saya curiga, sepertinya peluang uji pantau saya untuk hasilnya non reaktof lebih kecil. Saya diminta untuk mengubungin PMI pusat minggu depannya untuk mengetahui hasil uji pantau pertama saya.

Siang tadi, saya menelpon PMI pusat. Dan hasilnya. Darah saya masih dinyatakan reaktif terhadap salah satu tes uji saring PMI. Meskipun sudah tahu bahwa peluang saya mendengar hasil darah saya reaktif ini lebih besar kemungkinannya, namun mendengarnya dari petugas langsung menimbulkan sensasi muram. Kesedihan menjalar ke lubuk hati. Halah halah bahasanya. Kebanyakan baca novel.

Ya saya sudah resmi menjadi daftar hitam PMI selamanya. Sayonara kartu donor.

Sisi baiknya, bagi para penerima transfusi darah, berbahagialah karena darah yang kalian dapatkan melalui uji saring yang cukup ketat.

Kamis, 22 Mei 2014

Happy Traffic

Minggu ini load pekerjaan saya bisa dibilang rendah. Bahkan hari ini tugas saya sudah rampung di pukul 10.30. Berhubung tidak ada pekerjaan yang mendesak dan saya ada keperluan untuk ke PMI, akhirnya saya putuskan untuk cabut dari kantor sebelum jam makan siang tiba..hihiiii

Saya ke PMI untuk mengkonfirmasi donor darah terakhir saya. Urusan disana hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Setelah itu saya bisa kembali lagi ke kantor tepat waktu dan menjadi anak baik menunggu pekerjaan itu datang. Eits tapi saya tidak setaat itu hehe. PMI pusat terletak di jalan kramat raya yang artinya tinggal sepelemparan tombak ke rumah saya haha. Saya mampir ke rumah untuk makan siang, setelah makan siang istirahat sebentar. Oow...oow ternyata istirahatnya tidak jadi sebentar, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 saat saya tersadar untuk kembali lagi ke kantor. Saya bergegas untuk pergi ke kantor lagi.

Keberangkatan saya ke kantor terlalu sore dan tidak heran saya menemukan wajah asli jakarta (baca : kemacetan sana sini). Perjalanan ke kantor saya tempuh dengan naik 3 kali angkutan umum. Pertama, mikrolet M01 sampai matraman. Kedua, patas 213 sampai ke sudirman. Ketiga, bus metromini 640 sampai gatot subroto. Tapi jalanan di sudirman sore tadi macet sekali. Membuat bus-bus metromini memilih lewat jalur cepat, sementara saya calon penumpangnya menunggu di pinggir jalur lambat. Saya tidak berniat untuk nyebrang mendekati bus itu. Enak aja masa penumpang ngejar-ngejar bus (penumpang belagu haha).

Karena gemes kelamaan menunggu bis yang bersedia jalan di jalur lambat, saya memutuskan untuk berjalan kaki saja. Berjalan kaki di kawasan sudirman bukan merupakan hal baru bagi saya, tahun 2010 pedestrian ini setiap hari saya lalui karena kebetulan kantor lama saya terletak di gedung Mayapada, Sudirman.

Posisi saya saat itu di depan gedung Sonatopas, Sudirman. Saya berencana berjalan perlahan ke kantor dan jika menemukan bis 640 di tengah jalan barulah naek bis. Namun speed jalan saya tidak bisa diperlambat hihi. Saya selalu merasa senang bisa berjalan kaki dengan riang dan bebas pada pedestrian yang luas. Sementara para pengendara terjebak dalam kemacetannya. Berjalan seperti siput. Seakan ingin saya dadah-dadahin gitu loh para pengendara kendaraan bermotor, sambil bilang "makanya jalan kaki aja daripada macet hahahaaa".

Sesampainya di semanggi saya mendapati 640 melewati saya dan lagi-lagi si penumpang belagu ini tidak mau mengejar bisnya. Saya membiarkan bis itu lewat. Sudah nanggung ah terusin aja jalan sampai kantor. Beberapa bulan lalu saya emang suka jalan kaki dari kantor karena waktu itu ada rekan kerja saya, bang oges, yang suka jalan kaki juga. Tapi sekarang bang ogesnya sudah pindah ke dumai. Saya tidak punya "walkmate" lagi..huhuu sedih. Saya merindukan personil PKP yang lama.

Hei para pengendara kendaraan bermotor, mau merasakan happy traffic. Ini pesan untuk kalian

GET BIKE OR WALK

catatan :
sebenarnya saya ingin mendokumentasikan perjalanan sore saya tadi, tapi si iko alias nikon coolpix s3500 yang saya baru beli minggu lalu masih bertengger cantik di kamar saya :)).

Senin, 19 Mei 2014

Landi - Landak Kecil yang Berani

Landi adalah seekor landak kecil yang manis. Kulitnya kecokelatan, ujung-ujung durinya berwarna putih. Setiap pagi hari, saat matahari bersinar cerah, Landi akan bermain-main di halaman rumput yang masih basah oleh embun. duri-durinya yang terkena air terlihat mengkilap tertimpa sinar matahari. Cantik.

Biasanya, pagi adalah saat yang menggembirakan hati Landi. Tapi, tidak pagi itu. Landi sedang kesal, wajahnya cemberut karena dua temannya Rosi Rusan dan Kiki Kelinci tak mau bermain bersamanya. Pagi itu mereka sedang berada di halaman depan rumah Rosi.

"Kemarin durimu menusukku. Tak terasa sih pada awalnya. Tapi, lama-lama perih," kata Kiki, menjelaskan keengganannya.
"Maaf, tapi aku tak sengaja," kata Landi.
"Aku juga kena," kata Rosi.
"Maaf lagi," kata Landi.
Mereka bertiga terdiam beberapa saat.
"Sekarang kita main lagi, ya? Aku janji akan berhati-hati," kata Landi, berharap.
"Aku dan Kiki mau berkunjung ke rumah bibiku, Bibi Lisa," kata Rosi.
"Aku ikut, aku ikut," kata Landi cepat.
"Tempatnya jauh. Kalau kamu mau ikut, kau harus minta izin dulu kepada ibumu. Kami akan menunggumu di sini," ujara Rosi.

Landi segera pulang dan minta izin kepada ibunya. Lalu, ia cepat-cepat kembali ke rumah Rosi. Ternyata, dua temannya itu tak berhasil ia jumpai. Sesungguhnya, Rosi memang tak ingin Landi ikut mereka. Jadi begitu Landi tak tampak lagi, Rosi langsung mengajak Kiki berangkat.

"Mereka berdua sudah berangkat. Kata Rosi, kau tak mau ikut," kata ibu Rosi kepada Landi yang bertanya kepadanya.
Landi terdiam. Ia tak tahu harus marah atau merasa geli. Ini tak biasa, bertahun-tahun mereka bermain bersama, baru kali ini Rosi dan Kiki tak mengajaknya serta.

Rosi dan Kiki bergerak setengah berlari menuju rumah Bibi Lisa.
"Jangan-jangan nanti Landi marak kepada kita?" tanya Rosi.
"Habis bagaimana lagi? Ia kemarin tak berhati-hati. Aku takut jika terkena durinya lagi," kata Kiki, wajahnya masam.
"Betul juga. Memang ia tak sengaja, tapi ia mengenai kita saat ia bergulingan sambil tertawa. Sakit dan bikin kesal," kata Rosi.

Di rumahnya, Landi mengadu kepada ibunya.
"Teman-teman tak mau lagi main denganku," kata Landi, sedih. "Pasti karena duri-duriku ini yang menakutkan mereka. Bagaimana caranya menghilangkan duri-duri di tubuhku ini, Bu?"
"Untuk apa?" tanya ibu Landi, tersenyum. "Duri di tubuh kita sebetulnya adalah bulu-bulu yang besar dan mengeras. Itu karunia Tuhan. Kita bisa menggunakannya untuk melindungi diri dari musuh."

"Tapi sekarang ini malah teman-temanku yang ketakutan. Mereka tak mau main denganku gara-gara duri ini," kata Landi, bersungut-sungut.
"Mereka hanay belum paham gunanya. Kau harus lebih sabar. Ibu yakin, suatu saat nanti mereka akan mengerti manfaat bulu kasar di tubuhmu. Sekarang, sebaiknya kau membantu Ibu di rumah saja. Besok, coba kau main lagi ke rumah Rosi atau Kiki. Jelaskan kepada mereka soal duri-duri itu."

Keesokan harinya, Landi kembali ke rumah Rosi. Ia menjumpai Rosi dan Kiki sedang bermain bersama.
"Hai, teman-teman," kata Landi.
"Bagaimana kabar Bibi Lisa?"
"Eh, Landi. Hm, maaf ya kemarin kami meninggalkan kamu," kata Kiki, malu, "kami takut kalau tertusuk durimu lagi."
"Iya Landi, aku juga minta maaf," ujar Rosi, terbata-bata.
 "Iya, iya, aku mengerti. Waktu itu aku yang kurang berhati-hati," kata Landi. "Sebetulnya, kalian tahu tidak kegunaan duri-duri ini?"
"Oh, apa itu?" sahut Kiki dan Rosi serempak.
Landi sudah akan bicara lagi ketika ibu Rosi muncul dengan wajah ketakutan.
"Ayo anak-anak, segera masuk ke rumah. Cepat, cepat!" kata ibu Rosi
"Ada apa, Ibu?" tanya Rosi, bingung. Air matanya jatuh.

Kiki yang tak tahu apa-apa hanya bisa melompat-lompat karena tegang. Pada saat itulah seekor macan kumbang keluar dari semak belukar dan langsung menggeram. Macan itu sebetulnya tak lebih besar daripada ukuran tubuh ibu Rosi, tapi matanya yang galak dan taringnya yang runcing membuatnya terlihat menakutkan sekali. Mereka semua berteriak terkejut. Kiki menyelusup masuk ke rumahnya di balik pohon ketapang kencana. Rosi dan ibunya berlari masuk ke rumah mereka. Mereka tak sempat memikirkan nasib Landi. Macan kumbang berlari menuju Landi. 

Landi gemetar. Tapi, ia segera teringat pesan ibunya. Maka, ia menggulung tubuhnya hingga duri-durinya berdiri semua. Macan kumbang yang lari dengan cepat tak sempat menghentikan langkah sehingga kakinya menginjak duri Landi.

"Aaaaauuuuu....," seru macan kesakitan. Darah menetes deras dari kakinya.
"Ayo, pergi kau. Jangan ganggu temanku!" kata Landi dengan galak. Tubuhnya memang kecil, tapi karena duri-durinya yang panjang berdiri semua ia terlihat seram. 

Si macan kumbang sekarang marah, tapi ia juga tak berani sembarangan menyerang. Yang tidak ia duga, jerit kesakitannya tadi telah mengundang banyak binatang lain datang mendekat, termasuk ibu Landi dan kerabat-kerabatnya.

Demi melihat Landi berhadap-hadapan dengan macan kumbang, binatang-binatang lain segera meraih batu dan melempari macan itu beramai-ramai. Macan itu sekali menjerit kesakitan dan kabur sejauh-jauhnya. Semua binatang yang ada di tempat itu bersorak gembira.

"Hebat, Landi! Kau telah menyelamatkan kami," ujar Rosi.
"Kamu sungguh pemberani!" kata Kiki.
"Wah, sungguh anak yang berani! Ibu bangga padamu," puji ibu Landi.
Landi tersipu-sipu. "Jadi sekarang, teman-teman tahukan, guna duri-duri di tubuhku?"
Mereka tertawa gembira bersama. Memang senang sekali punya tean yang saling menyayangi.

Sumber : Buku Hatta Bercerita - Cerita tentang keberanian (Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama)



catatan kecil :
Seandainya saya dapat menjadi Landi, yang diberi karunia tombol on-off alamiah agar tahu kepada siapa duri-duri itu perlu dihadirkan dan kepada siapa yang tidak.


Selasa, 13 Mei 2014

Hantu Bentuk Baru

Jika kamu asli warga negara indonesia, maka kau tak akan heran banyak jenis hantu yang dapat ditemukan. Mulai dari pocong, kuntilanak, tuyul, buto ijo, genderuwo, sundel bolong, mister gepeng, hantu jeruk purut, nenek gayung, kakek cangkut, dan masih banyak lagi yang jika saya sebutkan semuanya isi posting ini hanya akan berisi jenis hantu.

Keberadaan hantu di atas memang menakutkan, tapi ada hantu bentuk baru yang menurut saya lebih menakutkan yaitu MEDIA. Mengikuti pemberitaan media saat ini sama dengan memasang jebakan tikus ditiap langkah. Menjadi was-was dan cemas. Takut yang berlebihan. Sampai akhirnya tidak berani melangkah.

Jika diperhatikan pemberitaan di media seperti memiliki tema. Pertengahan 2012 terjadi kecelakan maut di tugu tani. Iya kasus afriyani. Semenjak kasus tersebut media mengekspos segala berita terkait kecelakaan. Saat ini sedang marak-maraknya pemberitaan kekerasan seksual terhadap anak kecil. Dimulai dari kasus JIS, lalu diikuti kasus fenomenal emon dan kasus-kasus berikutnya yang menghantui para orang tua. 

Menurut saya semakin media mengekspos semakin banyak kejatahan yang sama terjadi. Karena secara tidak langsung media menghadirkan contoh kejahatan pada masyarakat. Dan media semakin mengedepankan sisi bisnisnya. Bad News is Good News. Media tidak mempertimbangkan lagi akibat sosialnya jika pemberitaan buruk ditayangkan terus menerus. Sekali lagi itu hanya pendapat saya.

Saya memimpikan suatu saat nanti pemberitaan di Indonesia akan dipenuhi oleh berbagai prestasi anak bangsa. Amin.


Selasa, 06 Mei 2014

Peri kecil dalam Pemilu

Meskipun pemilihan umum telah berlalu hampir satu bulan yang lalu, tapi saya tetap ingin menceritakan ini. Keistimewaan yang saya alami pada pemilu.

TPS 21 tempat saya menggunakan hak pilih tidaklah mewah. Menggunakan ruangan terbuka yang disulap menjadi area pemilihan. Ukuran TPS 21 hanya sebesar 3mx7m, beratapkan terpal biru, ditutupi dengan berbagai kain bekas spanduk konser musik berbagai tahun, dan dilengkapi dengan bangku dan meja yang dipinjam dari SD setempat. Namun yang membuat istimewa adalah adanya peri kecil dalam TPS 21. Peri kecil itu tak lain adalah Rahelya Vinajwa (keponakan saya) dan teman-temannya.

Peri-peri kecil memeriahkan suasana pemilu di TPS 21. Mereka membantu mengarahkan para pemilih. Mengingatkan untuk mencelupkan jari setelah memilih. Membantu memberikan kopi sachet kepada warga yang menggunakan hak pilihnya. Dan memamerkan jari kelingking mereka yang berwarna biru..hihi lucunya :))

Saat saya memasuki bilik suara, rahel dan temannya berteriak "Tante i semangat. Je hun Tante i". Tak ayal sayapun tertawa lepas mendengarnya :))

Malam harinya saat sedang ngobrol dengan ponakan saya bertanya.
T : "Je hun apa sih neng?"
R : "Itu loh tante i, Je hun. Masa gak tahu?"
T : "Emang je hun apa?"
R : "Kan ada huruf a lalu huruf b jadinya Je hun"
T : "@$%&!#*"
Mungkin saya yang tidak bisa memasuki imajinasi ponakan saya. hehehhehe :))

ini dia penampakan Je hun hihii..


yes, we're vote

Rabu, 30 April 2014

DICARI !!!

Dicari teman pulang kantor bareng trimi untuk mengingatkan biar trimi gak lupa bayar ongkos dan untuk membangunkan saat dikit lagi saatnya turun.

hadeuuhhh trimi


***

Pengumuman di atas saya buat karena akhir-akhir ini kedua kebiasaan buruk tersebut lebih sering terjadi. Sejujurnya ini bukan hal yang bisa dibanggakan, bahkan malu ceritanya. Cerobohnya trimi hehe.. Tapi saya menceritakan ini di blog dengan harapan ada pembaca (baca : kalo ada yg baca hihi) yang mau memberikan usul untuk mengurangi kebiasaan ini. Atau mau membantu mengingatkan saya via media elektronik meskipun tidak bisa pulang bersama.

Kebiasaan buruk pertama : lupa bayar ongkos. Kebiasaan ini disebabkan karena saya terlalu nyaman dengan suasana bis kota. Mungkin karena jadi moda transportasi utama saya setiap hari kali ya. Sesampainya di atas bis kota saya langsung asik dengan diri sendiri. Entah itu main hp, baca buku atau tertidur pulas sampai-sampai kenek bulak-balik dihadapan sayapun saya santai aja. Tidak merasa ditagih untuk bayar ongkos. Alhasil lupa deh bayar ongkos yang sebenarnya sudah saya siapkan di kantong. Iya untuk ongkos bis selalu saya siapkan sebelumnya di kantong hanya sayangnya ya itu lupa memberikannya saat sudah di atas bis. Dulu ada mba atrin yang suka mengingatkan saya untuk memberikan ongkos ke kenek. Sekarang mba atrin sudah pindah kantor jadi saya tidak ada teman pulang bareng lagi. Sedih. Maaf sangat ya para kenek/supir bis saya tidak bermaksud untuk mengurangi rezeki yang harusnya kalian dapat.

Kebiasaan buruk kedua : tertidur di bis. Sebenarnya kebiasaan tertidur ini bukan hanya spesifik di bis, tapi emang dasarnya saya gampang tertidur pulas pada kondisi apapun. Walaupun di bis panas, penuh guncangan jug-gi-jag-gi-jug, dan berisik, semua itu tidak menghalangi saya untuk terpejam bahkan terkadang sampai pulas sekali. Sehingga saat terbangun saya sudah berada di terminal senen, melewati tempat saya harusnya turun dari bis. Dan saya harus naik mikrolet satu kali lagi untuk kembali ke tempat dimana saya seharusnya turun. Sebenarnya bisa jalan kaki, tapi jauh cyynnn hehe..

Semoga dengan saya menuliskan semua ini, dapat membantu saya untuk selalu ingat membayar ongkos. Dan untuk ketiduran di bis, eehhmm rasanya itu sulih deh, kalo gak ada temen ngobrol saya pasti tidur hihiii...




Minggu, 06 April 2014

Takut

Aku tak habis pikir kenapa kamu dapat berteman dengan ketakutan. Kehangatan apa yang kamu harapkan dapat timbul dari sebuah ketakutan? Atau kenyamanan apa yang dapat dihadirkan oleh rasa takut? Ketakutan hanya akan membebatmu dan membuatmu sulit bernapas.

Kamu hidup dalam rasa takut yang berlebihan. Tuhan menciptakan rasa takut agar kita waspada. Bukan untuk memenjarakan diri kita. Tanpa kamu sadari, kamu sudah menjadi hamba dari ketakutanmu sendiri.

Ketakutanmu seperti gelembung yang menyelubung. Dan kamu takut untuk melewati batas gelembung itu. Melangkahlah. Berikan tanganmu padaku. Aku akan memegangmu dan mengajakmu keluar melewati batas gelembung itu. Akan banyak kebahagiaan yang kamu temui di luar saput gelembungmu.

Aku selalu menanti uluran tanganmu. Dara.

Rabu, 02 April 2014

Sok Sibuk !

Ibarat rumah yang ditinggal penghuninya, blog ini sepertinya sudah dipenuhi sarang laba-laba di tiap pojokannya.
Dan lumut-lumut hijau mulai menyelimuti dindingnya, menjalar dari bawah ke atas.

Saya sebagai pemilik blog ini beberapa bulan terakhir sok sibuk !
Sehingga tidak ada ruang untuk jari berorkestrasi dengan ide.
Bahkan cerita bersambung yang saya buat tak kunjung rampung.
Ooh tidaakk, saya terlalu larut dalam pekerjaan.

Nikmatilah trimi, mungkin kau akan merindukan masa-masa sibuk seperti ini #menyemangati diri sendiri#


Senin, 27 Januari 2014

Every Morning in Asia

Every morning in Asia,
a deer wakes up
It knows it must outrun the fastest tiger,
or it will be killed


Every morning in Asia,
a tiger wakes up
It knows it must run faster than the slowest deer,
or it will starve.


It doesn’t matter whether you’re a tiger or a deer -
When the sun comes up, you’d better be running.


~ Adapted from Zytec

Rabu, 15 Januari 2014

Sepi

Hai sepi, kau datang menjamah lubuk hati ini lagi
Sepi aku ingin bertanya, adakah kau bosan dengan kesendirian?
Atau memang kau yang memilih untuk sendiri agar tidak sakit hati?
 
Oh sepi kenapa ada saja manusia serakah di dunia ini?
Saat mereka sudah memiliki kenapa mereka tega juga untuk berpaling ke yang lain!
Sementara di luar sana masih banyak manusia-manusia yang mencari tambatan hati
 
Sepi sepertinya kau akan berkawan baik denganku
Akhir-akhir ini aku berpikir, lebih baik sendiri daripada dikhianati
 
Sepi maukah kau berkolaborasi denganku?
Mengusir sifat serakah dari diri tiap manusia
Memiliki satu itu indah
Memiliki satu itu bahagia
Tak perlulah mendua
 
Sepi semoga mereka yang telah tersakiti diberi keikhlasan untuk memaafkan
Enyahlah duka
Ingatlah hikmah

Jumat, 27 Desember 2013

[cerbung] Cita-Ci(n)ta ... (2)



Waktu itu liburan semester telah tiba. Sebagian besar mahasiswa kembali ke kampung halamannya termasuk seluruh penghuni kostan melati kecuali aku. Aku terpaksa menunda kepulanganku satu hari karena ada pekerjaan sampingan yang harus aku selesaikan. Tinggallah aku sendiri di kostan berlantai dua yang memiliki daya tampung 20 mahasiswi ini. Terasa sepi dan sunyi. Untuk mengusir keheningan aku menyalakan radio dengan volume maksimal. Ikut bersenandung tralala trilili tapi tetap saja rasanya sunyi. Ah rasanya gawat kalau aku terus-terusan merasa paranoid seperti ini, bisa-bisa tidak bisa tidur malam ini. Aku putuskan untuk keluar kostan dan berjalan kaki sampai kelelahan. Setelah lelah dan rasa kantuk itu datang barulah aku kembali ke kostan. Langsung menuju tempat tidur tanpa cuci kaki ataupun sikat gigi. Sebelum terlelap aku mengirimkan pesan singkat ke Bodo. Bodo juga menunda kepulangannya satu hari karena mengerjakan pekerjaan sampingan yang sama denganku.

“Do, kerjaan lo udah beres? Hehe basa-basi banget ya gw nanyain kerjaan jam segini. Do, gw parno nih malam ini di kostan sendiri.”

Pesan itu aku kirimkan bukan untuk mengharapkan sebuah balasan. Hanya ingin berbagi cerita saja, bahwa aku sahabatnya yang dianggap pemberani bisa juga ketakutan.

Matahari pagi sudah mulai menyingsing. Alarm jamku juga sudah berbunyi. Perlahan aku membuka mata dan ternyata sudah pagi. Tak kusangka bisa juga aku tidur nyenyak malam tadi. Aku paksakan kaki untuk berjalan keluar kamar menuju kamar mandi. Selangkah lagi menuju kamar mandi aku baru ingat, handukku ada di luar. Aku seret langkah kaki menuju keluar kostan.

Sesampainya di depan pintu kostan, terlonjak kaget aku dibuat oleh sosok yang sedang bergelung dengan kain sarung. Aku dekati sosok tersebut sambil bertanya-tanya siapa dia yang sedang tidur di depan teras kostan melati. Ya ampun, ternyata sosok yang sedang tertidur di teras dengan kain sarung hitam menyelubungi itu adalah Bodo. Spontan aku langsung membangunkan dia.

“Hei, ngapain lo ada di sini? koq bisa tidur di depan sini?” tanyaku.

Bodo sudah terusik dengan ocehanku. Dia menggeliat ke kanan dan ke kiri. Seperti seorang anak kecil yang sedang dibangunkan ibunya untuk berangkat ke sekolah. Mencari-cari alasan untuk tetap diijinkan terpejam 5 menit lagi. Tingkahnya membuat aku ingin tersenyum. Tak lama kemudian Bodo membuka matanya sambil membalikkan badan ke arahku yang sedang duduk di samping kirinya.

“Bisa tidur gak lo semalam?” tanya Bodo sambil berusaha membuka penuh matanya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. “Udah ah, gw mau lanjut tidur lagi. Lo ganggu gw aja” ucapnya dengan nada sedikit kesal. Dan aku masih tetap tersenyum. Bodo bangkit dari kursi tempat dia tidur, mengalungkan sarungnya dan kakinya menggapai-gapai mencari sepasang sandal. Dia berjalan perlahan dan memunggungiku yang masih terduduk dan tersenyum. Sebelum punggungnya semakin jauh, aku pun bersuara setengah berteriak.

“Do jadi lo ngejagain gw semalam” nada senangku jelas terdengar. Bodo tetap melangkah menjauh. Tanpa berbalik badan dia menjawab, “Gak usah ge-er”. Aku tetap terduduk dan tersenyum. Bahkan saat sekarang aku mengenang kejadian itu, posisi dan ekspresiku masih sama. Terduduk dan tersenyum.

“Tambah minumannya lagi, Bu?”. Suara pramusaji membuyarkan lamunanku. Lamunan atas kenangan-kenanganku saat bersama Bodo. Aku menggeleng perlahan kepada pramusaji itu. Sebagai bentuk jawaban tidak atas tawarannya.

Saat ini aku sedang berada di kedai kopi yang terletak dibilangan Jakarta Pusat. Dua gelas teh tarik telah tandas aku minum sambil menanti seseorang datang. Orang yang aku nanti bukan terlambat datang, tetapi aku yang memilih datang satu jam lebih awal. Aku ingin memberikan ruang untuk memori itu bangkit lagi. Iya, orang yang aku nanti adalah Bodo.

Kedai kopi tempat kami bertemu hari ini tidak seperti warung kopi kang asep tempat kami nongkrong sewaktu kuliah dulu. Tempatnya lebih mewah dengan ornamen bergaya vintage dan dinding kaca yang menyelubungi seluruh ruangan. Sehingga aku bisa melihat lalu lalang orang di depan sana. Meskipun kedai kopi ini lebih mewah dan menu yang ditawarkan lebih beragam, namun aku tidak menjamin kedai kopi ini lebih nyaman dari warung kopi kang asep. Dengan segala keterbatasan yang ada di warung kopi kang asep, aku tetap merasa warung kopi kang asep lebih nyaman dan lebih hangat. Senyuman yang diberikan kang asep lebih tulus dibanding senyuman pramusaji kedai kopi ini. Senyuman pramusaji hanya akan mengembang jika kau mengeluarkan uang. Tapi sayangnya aku dan Bodo tidak bisa lagi sering-sering ke warung kopi kang asep. Karena tempatku bekerja berbeda kota dengan warung kopi kang asep.

Hari ini aku akan bertemu lagi dengan bodo setelah satu tahun kami memutuskan untuk tidak saling bertukar kabar. Keputusan ini dibuat karena tiap pertemuan aku dan bodo hanya saling melemparkan keluhan satu sama lain. Tiga tahun selepas kelulusan kami, hidup kami seakan hanya dihinggapi keluhan. Bodo yang selalu mengeluh tentang betapa menjemukannya menjadi seorang bankir. Dan aku yang selalu merutuki klien yang merampas waktu luangku.

Sebulan setelah wisuda, bodo mendapat pekerjaan sebagai treasury di salah satu bank swasta terkenal di Indonesia. Satu sisi aku gembira dia mendapat posisi itu namun sisi lainnya aku bertanya-tanya, lupakah dia dengan mimpinya? Aku pun pernah menanyakan langsung kepadanya tentang impiannya menjadi musisi hebat. Dan bodo hanya menyunggingkan senyum yang dipaksakan ada. Sisi egoisku menyimpulkan bahwa bodo orang yang pasrah. Tidak mau memperjuangkan cita-citanya. Namun akhirnya bodo memberi pengertian bahwa semakin kau bertambah usia kau akan mengerti kehadiranmu di bumi bukan hanya untuk memenuhi keinginan sendiri. Meskipun kalimat ikhlas itu keluar dari mulutnya sendiri, namun menjalankannya tidak semudah mengucapkannya. Terbukti dari binar mata bodo yang semakin redup dari hari ke hari. Tapi apa yang lebih baik dilakukan oleh seorang anak yatim yang menanggung beban pendidikan dua adiknya?

Dan tentang aku, keluhanku berbeda dengan bodo. Tentu bukan karena aku menjalani pekerjaan yang tidak sesuai passion. Prinsipku masih sama yaitu daily bases. Untuk itu aku meng-apply setiap lowongan pekerjaan yang masuk ke mailing list. Dua bulan setelah wisuda aku mendapat pekerjaan menjadi measurement science di sebuah perusahaan riset pemasaran. Sebagai sebuah perusahaan riset pemasaran berskala multinasional tentu saja klien yang dimiliki adalah klien-klien kelas kakap. Project yang dikerjakan sebagian besar project berskala nasional. Terdengar hebat? Tapi tunggulah sampai kau tahu betapa waktumu akan terampas oleh para klien. Aku selalu merutuki akhir pekanku yang selalu dirampas untuk mempersiapkan bahan presentasi yang wajib selesai senin pagi. Sampai ada anekdot di tempat aku bekerja, bahwa kalender yang kami miliki hitam semua tak ada tanggal merah. Kantorku menjadi penjara untuk diriku sendiri.

Aku dan bodo seperti jiwa-jiwa hampa yang berjalan setiap pagi. Lalu berganti menjadi jiwa-jiwa lelah yang pulang setiap malam. Sampai aku dan bodo berkelakar, bahwa seseorang telah meminum ramuan polyjus dengan ekstrak rambut kami dan menjalani kehidupan kosong setiap hari. Arif Priambodo dan Miranda Utami yang asli entah sedang disembunyikan dimana.

“Woi, ngelamun aja!”. Seseorang meneriakiku sambil mendorong lembut pundak kiriku. Aku mengenali suara pria itu. Iya itu suara milik arif praimbodo. Aku terlonjak histeris melihatnya. Ada perasaan rindu dan haru akhirnya bisa bertemu dengan sahabatku lagi.

“Waahh..kangen gw do!” ucapku semringah.
“Udah dua gelas aja nih di depan gw. Hayo ngaku lo tadi ketemuan sama siapa dulu?” tanya bodo usil.
“Ha-ha gw datang satu jam lebih awal tahu. Soalnya pengen mengenang masa lalu kita. Gw kangen banget tahu do sama lo. Gak kangen apa lo sama gw?” jawabku sambil terkekeh.
“Iye sama” jawab bodo sekenanya.
“Eh gw punya kabar gembira pan. Akhirnya gw resign dari bank” ucap bodo dengan bahagia. Tak pelak akupun ikut bahagia. Dan aku menemukan kembali binar mata bodo. Akhirnya Arif Priambodo yang asli telah kembali. Ramuan polyjus entah apalah itu.

Bodo menceritakan tentang dirinya yang akhirnya resign. Keputusan bodo untuk keluar dari bank ternyata bukan atas kehendak diri sendiri. Memang selama ini dia tidak menikmati menjadi seorang bankir. Namun mengingat tanggung jawabnya yang menjadi tulang punggung keluarga, bodo menepis jauh-jauh keinginan itu. Sampai suatu hari, ibunya mendatangi bodo. Ibu bodo berpikir sudah terlalu banyak yang bodo lakukan untuk keluarga, untuk ibu dan kedua adiknya. Sudah saatnya bodo untuk memikirkan diri sendiri. Tentang ketidakbahagiaan bodo menjadi seorang bankir, ibu bodo sudah tahu itu sejak lama. Namun waktu itu tidak ada pilihan lain untuk ibu bodo membiarkan putranya mengambil peran seorang ayah yaitu menafkahi keluarga. Saat ini kedua adiknya sudah bisa mandiri. Sudah saatnya bodo mengejar impiannya. Restu ibu sudah ditangan, untuk apa lagi ragu melangkah!

Lain halnya dengan bodo, aku tidak memilih jalan resign. Aku tahu bahwa kantorku memiliki jam kerja yang over time. Tapi tidak ada niatan resign dalam otakku. Selama setahun terakhir ini aku berusaha memperbaiki sikapku dan pikiranku. Jika dulu tiap tambahan jam kerja yang diminta klien akan aku hadapi dengan kutukan dan sumpah serapah. Maka sekarang aku mencoba mulai berubah dengan berpikiran lebih positif. Menganggapnya sebagai suatu berkah. Setiap pekerjaan yang aku selesaikan aku anggap sebagai suatu karya. Lambat laun pikiran positif ini mulai menunjukkan efeknya. Aku merasa lebih bahagia. Menanamkan rasa syukur atas apa yang kita terima membuatku lebih bahagia. Cara yang aku terapkan ini memang bukan jalan instan. Seperti meminum jamu, kamu harus rutin mengkonsumsinya tiap hari agar merasakan manfaatnya dikemudian hari.
  
Aku dan bodo punya cara yang berbeda, tapi kami bermuara pada sungai yang sama. Bahagia.

“Ternyata teori lo bener ya do. Kalo ion negatif berkumpul dengan ion negatif, hanya akan mengundang ion negatif lainnya. Untung setahun yang lalu kita berani untuk memutuskan tidak saling bertukar kabar dulu. Akhirnya selama perpisahan ini, kita menemukan penetralisir yang dibutuhkan yaitu ion positif.” Kesimpulanku atas sesi curhat yang panjang hari ini.

“Iyalah bener. Teorinya Profesor Arif Priambodo gitu. Eh lo masih inget damar gak pan?”
Napasku tertahan mendengar kalimat yang diucapkan bodo.
“15 menit lagi damar nyampe ke tempat ini. Gw ngundang dia untuk gabung dengan kita malam ini.” Ucap bodo dengan nada santai. Tapi aku terbatuk-batuk mendengar kalimat terakhirnya.

[bersambung]

catatan :
Ramuan polyjus adalah salah satu ramuan yang ada dalam serial Harry Potter. Ramuan ini digunakan untuk transfigurasi, memungkinkan peminumnya dapat berubah bentuk menjadi orang lain.